Negara Absen, Anak-anak Pining Dipaksa Bertaruh Nyawa di Sungai

ANALISA NEWS

- Redaksi

Selasa, 31 Maret 2026 - 18:49 WIB

50527 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES,(31.03/2026)  |  Setiap pagi, di Pining, Gayo Lues, pemandangan memilukan terulang tanpa henti. Anak-anak berseragam sekolah menyeberangi sungai deras yang keruh, menantang maut demi menuntut ilmu. Jembatan Pintu Rime yang hancur diterjang banjir bandang dibiarkan terbengkalai. Tidak ada jembatan darurat, tidak ada tali pengaman, tidak ada negara di sana. Yang ada hanya keberanian yang dipaksa dan ketakutan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Janji pemerintah pusat dan provinsi sudah terlalu sering diucapkan, tapi tak pernah benar-benar diwujudkan. BNPB RI datang, melihat, berjanji, lalu menghilang. PT Hutama Karya, yang digadang-gadang sebagai pelaksana perbaikan, justru memilih diam. Tidak ada penjelasan, tidak ada rasa tanggung jawab, hanya keheningan yang menyakitkan. Warga Pining sudah bosan dengan sandiwara birokrasi. Mereka tidak butuh kunjungan seremonial, mereka menuntut solusi nyata.

Fakta di lapangan bicara lebih keras dari pidato pejabat. Anak-anak kecil, dengan seragam basah dan wajah cemas, melangkah di antara arus yang siap menyeret siapa saja. Orang tua hidup dalam kecemasan, menunggu kabar buruk yang bisa datang kapan saja. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan mereka, selain doa dan keberuntungan. Negara seolah menutup mata, membiarkan warganya bertaruh nyawa untuk hak dasar yang seharusnya dijamin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kejanggalan semakin nyata ketika PT Hutama Karya, yang seharusnya bertanggung jawab, justru menambah luka dengan sikap bungkam. Tidak ada transparansi, tidak ada progres, hanya diam yang menyakitkan. Proyek perbaikan jembatan berubah menjadi teka-teki tanpa jawaban. Tidak ada papan informasi, tidak ada pekerja di lapangan, hanya sisa-sisa besi tua yang menjadi saksi bisu kelalaian. Warga bertanya, apakah Pining masih dianggap bagian dari Aceh, atau sudah dihapus dari peta perhatian negara. Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban, tanpa empati.

Dampaknya terasa nyata. Pendidikan anak-anak terancam, trauma mengendap di benak keluarga, dan kepercayaan pada negara semakin terkikis. Jika situasi ini terus dibiarkan, tragedi hanya soal waktu. Semua pihak yang memilih diam, yang bersembunyi di balik meja dan jabatan, harus bersiap menanggung beban sejarah. Pining tidak butuh belas kasihan. Pining menuntut keadilan, tindakan nyata, dan keberanian pemerintah untuk berhenti berjanji dan mulai bekerja. Di Pining, nyawa anak-anak dipertaruhkan setiap hari, sementara negara sibuk mencari alasan. (*)

Berita Terkait

Polres Gayo Lues Musnahkan 53 Ribu Batang Ganja di Pegunungan Pining
Polres Gayo Lues Musnahkan 53 Ribu Batang Ganja di Pegunungan Pining
Satresnarkoba Polres Gayo Lues Tindaklanjuti Informasi Masyarakat, Seorang Pria Diamankan Terkait Dugaan Narkotika
Leasing di Gayo Lues Diduga Rampas Mobil Gadai Bersama Oknum TNI, Korban Siap Tempuh Jalur Hukum
Kapolres Gayo Lues Tinjau Kesiapsiagaan Personel Polsek Blangkejeren, Administrasi hingga Kendaraan Dinas Diperiksa
Sabu 0,64 Gram Ditemukan di Bawah Kaki, Pria 35 Tahun Diamankan Satreskoba Polres Gayo Lues
​Respon Cepat Aduan Warga, Kades Bintang Meriah Bersama Pihak Kecamatan, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa Amankan Pria ODGJ untuk Dirujuk ke RSJ dan Program Rehabilitasi
APH Didesak Tindak Tegas Pemain Getah Ilegal di Gayo Lues, Negara Dirugikan

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 08:27 WIB

Klarifikasi Resmi Isu Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong: Kakanwil Ditjenpas Jabar Sebut Lokasi Tersebut Rumah Dinas Asimilasi

Selasa, 22 September 2026 - 17:43 WIB

Puluhan Personel TNI, Polri dan BNNK Razia Lapas Pancur Batu, Ratusan Warga Binaan dan Petugas Jalani Tes Urine

Senin, 21 September 2026 - 11:03 WIB

‎Milad ke-7, Pelita Konstitusi Resmi Luncurkan Pilarsatuarah.com dan Buku Hukum Pidana Anak ‎

Sabtu, 19 September 2026 - 21:17 WIB

Dari Warung Kopi ke Posko Kesehatan: Cerita Dedi Cemot yang Makin Semangat Hidup Sehat Sejak Adanya PKL Mahasiswa Keperawatan Universitas Imelda ke Blok 6 Helvetia

Sabtu, 19 September 2026 - 09:18 WIB

Perketat Pengamanan, Rutan I Medan Terjunkan Ratusan Personel APH Gabungan Lancarkan Razia dan Tes Urine Warga Binaan

Sabtu, 19 September 2026 - 00:20 WIB

Lahan Nameng Jadi Sorotan, PT Aplus Pacific: Selesaikan dengan Data, Bukan Framing

Jumat, 18 September 2026 - 13:32 WIB

Perkuat Keamanan, Lapas Sibolga Gandeng APH Laksanakan Razia Gabungan Kamar Hunian

Jumat, 18 September 2026 - 09:46 WIB

Dinilai Tak Mampu Bangun Sinergi dengan Media, Ketua AJMI dan Pokja Media Online Minta Pangdam I/BB Evaluasi Kasi Media Online

Berita Terbaru

KARO

Polres Karo Gelar Syukuran Hari Jadi Lalu Lintas ke-71

Jumat, 25 Sep 2026 - 12:56 WIB