Ketut Adi Candra: Seniman Bali yang Menjadikan Lukisan sebagai Doa

REDAKSI PROV. JAWA BARAT

- Redaksi

Rabu, 6 Mei 2026 - 00:48 WIB

5075 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Ketut Adi Candra: Seniman Bali yang Menjadikan Lukisan sebagai Doa

*Bandung, 6 Mei 2026* – Nama *I Ketut Adi Candra* mungkin masih asing bagi sebagian publik seni di Bandung. Tapi di Orbital Dago, Rabu sore 6 Mei 2026, ia hadir membawa bahasa rupa yang matang, spiritualitas yang pekat, dan pengalaman hidup yang telah melewati fase gelap sekaligus transformasi personal.

*Dari Gianyar ke ISI Denpasar*

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

I Ketut Adi Candra lahir di *Gianyar, Bali, tahun 1973*. Ia menamatkan pendidikan seni rupa di *ISI Denpasar pada 1998*. Dari bangku kuliah inilah ia mulai masuk ke dunia seni rupa kontemporer secara formal.

Nama “I Ketut” dalam tradisi Bali menandai ia sebagai anak keempat. Secara etimologis, _ketuut_ berarti “mengikuti” atau “membuntuti”, karena lahir setelah anak ketiga. Dalam pandangan hidup orang Bali, Ketut adalah anak “bonus” yang tersayang.

*Masa Kelam dan Titik Balik*

Perjalanan hidup Adi Candra tidak selalu mulus. Dalam sejumlah catatan personalnya, ia mengaku pernah mengalami masa-masa gelap dan frustrasi panjang. Hidupnya pernah “berantakan”, mudah marah, dan mengalami penderitaan batin. Titik terendah itu terjadi pada *2007*.

Perubahan datang pada *2016* ketika ia bertemu seorang guru spiritual. Guru itu memberinya waktu satu setengah tahun untuk “bangun” dan menata ulang hidupnya. Dari sana ia mendalami *meditasi, yoga, dan hipnoterapi*, sekaligus semakin tekun melukis.

*Tahun 2017*, ia resmi menjadi _jero mangku_ atau pemangku adat. Sejak saat itu, ia menjalani dua dunia sekaligus: sebagai pelukis dan _jero mangku_. Latar spiritual itulah yang membuat karya-karyanya bergerak di wilayah unik, berada di antara seni rupa kontemporer dan laku ritual.

*Melukis sebagai Yadnya dan Saluran Energi*

Bagi Adi Candra, melukis bukan sekadar kerja artistik.

_“Melukis bukan sekadar mengoleskan cat. Ini adalah wahana pembebasan spirit, kekuatan doa, dan hasil meditasi,”_ ujarnya saat pembukaan pameran.

Ia memandang melukis sebagai perpaduan antara _Laku Dharma_ yang sakral dan _Laku Profesi_ yang profan. Melukis adalah _yadnya_, persembahan. Prosesnya disertai doa dan niat suci, sementara seniman menempatkan dirinya sebagai saluran energi kreatif Tuhan.

Konsep _AUM_ menjadi pusat dari seluruh gagasan pameran _AUM di Tengah Realitas Hybrid_. Dalam tradisi Hindu, _AUM_ atau _OM_ dipahami sebagai bunyi kosmis, suara primordial yang menghubungkan manusia dengan semesta dan Ketuhanan. Bunyi _A-U-M_ merepresentasikan _Trimurti_: _Brahma_ sebagai pencipta, _Wisnu_ sebagai pemelihara, dan _Siwa_ sebagai pelebur.

Energi spiritual itu ia terjemahkan ke dalam lukisan-lukisan abstrak berlapis tekstur. Di atas kanvas, sapuan liar bertemu dengan aksara Bali, _rerajahan_, simbol sesaji, dan jejak-jejak visual ritual. Semuanya tampak samar sekaligus kuat, seperti mantra yang tidak diucapkan keras tetapi bergaung lama di kepala.

*Realitas Hybrid Bali Kontemporer*

Kurator *Bambang Barnas* menyebut posisi Adi Candra sebagai bagian dari realitas Bali hari ini, ketika tradisi, modernitas, kapitalisme, dan spiritualitas berjalan bersamaan dalam ruang yang cair. Dalam situasi seperti itu, karya-karya Adi Candra justru mencoba menjaga percakapan dengan dimensi batin.

Ia mengutip fenomena ketika tarian sakral _pendet_ bisa tampil di hotel berbintang sebagai bagian dari industri pariwisata. Dalam konteks itu, karya-karya Adi Candra menjadi semacam cermin kebudayaan Bali kontemporer: spiritualitas tetap hidup, tetapi berjalan berdampingan dengan modernitas.

Pameran _AUM di Tengah Realitas Hybrid_ di Orbital Dago menjadi perkenalan pertama Adi Candra kepada publik Bandung. Tiga komponen utama dihadirkan: *lukisan abstrak, gambar ornamen dan simbol ritual, serta _sanggah_ atau tempat sesaji*. Ketiganya membentuk ekosistem spiritual tersendiri di ruang pamer.

*Kebebasan Lewat Keterikatan*

Pada pembukaan pameran, *Heri Dim* turut memberi pandangan tentang seni nonfiguratif dan gagasan pembebasan. Menurutnya, kebebasan tidak selalu lahir dari ketiadaan batas, tetapi justru bisa ditemukan melalui disiplin dan keterikatan tertentu. Ia mengibaratkan seperti laku puasa: ada pembatasan, tetapi di dalamnya justru muncul ruang kesadaran baru.

Pandangan itu terasa selaras dengan perjalanan Adi Candra sendiri. Ia menemukan bentuk kebebasan setelah menerima jalan spiritual yang sebelumnya sempat ia hindari. Dari sana lahir karya-karya yang abstrak, meditatif, tetapi tetap berakar pada tradisi Bali.

Di tengah kecenderungan seni rupa kontemporer yang kerap sibuk mengejar sensasi visual dan pasar, pameran ini hadir dengan arah yang berbeda. Karya-karya Adi Candra tidak berteriak keras. Mereka bekerja perlahan, seperti mantra yang diucapkan berulang dalam kepala.

Dan mungkin di situlah kekuatan pameran ini berada: pada kemampuannya membuat lukisan terasa bukan sekadar benda visual, melainkan wadah bagi energi, kontemplasi, dan doa-doa yang diam-diam menetap di permukaannya.

(Red) **

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Razia Gabungan Libatkan APH, LSM dan Media, Lapas Labuhan Ruku Dipastikan Bersih dari HP Ilegal dan Narkoba
Dukung Kemandirian Warga Binaan, Ketua TP PKK Batubara Serahkan Alat Tenun Di Lapas Labuhan Ruku
Jadi Contoh Pemanfaatan Lahan, Jagung Polsek Kampar Kiri di Gunung Mulya Tumbuh Optimal
Polda Riau Beri Pendampingan Psikologis Untuk Keluarga Korban Curas di Rumbai
GPA Sultra Desak Mabes Polri Turun Tangan Berantas Tambang Ilegal di Konawe
Wakapolda Riau: Zero Tolerance Narkoba, 27 Kg Sabu Jaringan Internasional Digagalkan di Meranti
Datuk Seri Afrizal Cik Apresiasi Polres Meranti Ungkap 60 Kg Sabu: Selamatkan Ratusan Ribu Jiwa
Viral Dugaan Duplikasi Nopol Mobil Dinas Pemkab Ogan Ilir, Polisi dan Damkar Beri Klarifikasi

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:55 WIB

Usai Ikrar Pemasyarakatan, Lapas Labuhan Ruku Gerak Cepat Lakukan Penyuluhan Bahaya Narkoba dan Tes Urine Petugas dan Warga Binaan

Jumat, 8 Mei 2026 - 23:02 WIB

Perkuat Komitmen Integritas, Lapas Kelas I Medan Gelar Apel dan Ikrar Pemasyarakatan Bersih dari Handphone Ilegal, Narkoba, dan Penipuan

Jumat, 8 Mei 2026 - 22:35 WIB

Lapas Perempuan Kelas IIA Medan Teguhkan Komitmen Zero Halinar melalui Apel Ikrar dan Penguatan Integritas

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:58 WIB

Cimahi Lantik 10 Pejabat, Wali Kota: Jadikan Jabatan untuk Melayani

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:32 WIB

Gerak Cepat Resmob Agara! Pelaku Curanmor yang Resahkan Warga Berhasil Dibekuk dalam Ops Sikat

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:37 WIB

Praperadilan Wartawan Tangkap Maling Malah Dipenjara, Saksi Beri Keterangan Berbelit-Belit, Hakim Ingatkan Pidana 7 Tahun

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:32 WIB

Verzet Menang, Ketua Lpm Rumbai Barat Bebas: Pn Pekanbaru Gugurkan Penuntutan Tipiring

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:24 WIB

Jaga Warisan Leluhur, Lamr Meranti Ajarkan Sastra Budaya Melayu Ke Siswa Man 2 Rangsang Barat

Berita Terbaru