Ketut Adi Candra: Seniman Bali yang Menjadikan Lukisan sebagai Doa

REDAKSI PROV. JAWA BARAT

- Redaksi

Rabu, 6 Mei 2026 - 00:48 WIB

50247 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Ketut Adi Candra: Seniman Bali yang Menjadikan Lukisan sebagai Doa

*Bandung, 6 Mei 2026* – Nama *I Ketut Adi Candra* mungkin masih asing bagi sebagian publik seni di Bandung. Tapi di Orbital Dago, Rabu sore 6 Mei 2026, ia hadir membawa bahasa rupa yang matang, spiritualitas yang pekat, dan pengalaman hidup yang telah melewati fase gelap sekaligus transformasi personal.

*Dari Gianyar ke ISI Denpasar*

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

I Ketut Adi Candra lahir di *Gianyar, Bali, tahun 1973*. Ia menamatkan pendidikan seni rupa di *ISI Denpasar pada 1998*. Dari bangku kuliah inilah ia mulai masuk ke dunia seni rupa kontemporer secara formal.

Nama “I Ketut” dalam tradisi Bali menandai ia sebagai anak keempat. Secara etimologis, _ketuut_ berarti “mengikuti” atau “membuntuti”, karena lahir setelah anak ketiga. Dalam pandangan hidup orang Bali, Ketut adalah anak “bonus” yang tersayang.

*Masa Kelam dan Titik Balik*

Perjalanan hidup Adi Candra tidak selalu mulus. Dalam sejumlah catatan personalnya, ia mengaku pernah mengalami masa-masa gelap dan frustrasi panjang. Hidupnya pernah “berantakan”, mudah marah, dan mengalami penderitaan batin. Titik terendah itu terjadi pada *2007*.

Perubahan datang pada *2016* ketika ia bertemu seorang guru spiritual. Guru itu memberinya waktu satu setengah tahun untuk “bangun” dan menata ulang hidupnya. Dari sana ia mendalami *meditasi, yoga, dan hipnoterapi*, sekaligus semakin tekun melukis.

*Tahun 2017*, ia resmi menjadi _jero mangku_ atau pemangku adat. Sejak saat itu, ia menjalani dua dunia sekaligus: sebagai pelukis dan _jero mangku_. Latar spiritual itulah yang membuat karya-karyanya bergerak di wilayah unik, berada di antara seni rupa kontemporer dan laku ritual.

*Melukis sebagai Yadnya dan Saluran Energi*

Bagi Adi Candra, melukis bukan sekadar kerja artistik.

_“Melukis bukan sekadar mengoleskan cat. Ini adalah wahana pembebasan spirit, kekuatan doa, dan hasil meditasi,”_ ujarnya saat pembukaan pameran.

Ia memandang melukis sebagai perpaduan antara _Laku Dharma_ yang sakral dan _Laku Profesi_ yang profan. Melukis adalah _yadnya_, persembahan. Prosesnya disertai doa dan niat suci, sementara seniman menempatkan dirinya sebagai saluran energi kreatif Tuhan.

Konsep _AUM_ menjadi pusat dari seluruh gagasan pameran _AUM di Tengah Realitas Hybrid_. Dalam tradisi Hindu, _AUM_ atau _OM_ dipahami sebagai bunyi kosmis, suara primordial yang menghubungkan manusia dengan semesta dan Ketuhanan. Bunyi _A-U-M_ merepresentasikan _Trimurti_: _Brahma_ sebagai pencipta, _Wisnu_ sebagai pemelihara, dan _Siwa_ sebagai pelebur.

Energi spiritual itu ia terjemahkan ke dalam lukisan-lukisan abstrak berlapis tekstur. Di atas kanvas, sapuan liar bertemu dengan aksara Bali, _rerajahan_, simbol sesaji, dan jejak-jejak visual ritual. Semuanya tampak samar sekaligus kuat, seperti mantra yang tidak diucapkan keras tetapi bergaung lama di kepala.

*Realitas Hybrid Bali Kontemporer*

Kurator *Bambang Barnas* menyebut posisi Adi Candra sebagai bagian dari realitas Bali hari ini, ketika tradisi, modernitas, kapitalisme, dan spiritualitas berjalan bersamaan dalam ruang yang cair. Dalam situasi seperti itu, karya-karya Adi Candra justru mencoba menjaga percakapan dengan dimensi batin.

Ia mengutip fenomena ketika tarian sakral _pendet_ bisa tampil di hotel berbintang sebagai bagian dari industri pariwisata. Dalam konteks itu, karya-karya Adi Candra menjadi semacam cermin kebudayaan Bali kontemporer: spiritualitas tetap hidup, tetapi berjalan berdampingan dengan modernitas.

Pameran _AUM di Tengah Realitas Hybrid_ di Orbital Dago menjadi perkenalan pertama Adi Candra kepada publik Bandung. Tiga komponen utama dihadirkan: *lukisan abstrak, gambar ornamen dan simbol ritual, serta _sanggah_ atau tempat sesaji*. Ketiganya membentuk ekosistem spiritual tersendiri di ruang pamer.

*Kebebasan Lewat Keterikatan*

Pada pembukaan pameran, *Heri Dim* turut memberi pandangan tentang seni nonfiguratif dan gagasan pembebasan. Menurutnya, kebebasan tidak selalu lahir dari ketiadaan batas, tetapi justru bisa ditemukan melalui disiplin dan keterikatan tertentu. Ia mengibaratkan seperti laku puasa: ada pembatasan, tetapi di dalamnya justru muncul ruang kesadaran baru.

Pandangan itu terasa selaras dengan perjalanan Adi Candra sendiri. Ia menemukan bentuk kebebasan setelah menerima jalan spiritual yang sebelumnya sempat ia hindari. Dari sana lahir karya-karya yang abstrak, meditatif, tetapi tetap berakar pada tradisi Bali.

Di tengah kecenderungan seni rupa kontemporer yang kerap sibuk mengejar sensasi visual dan pasar, pameran ini hadir dengan arah yang berbeda. Karya-karya Adi Candra tidak berteriak keras. Mereka bekerja perlahan, seperti mantra yang diucapkan berulang dalam kepala.

Dan mungkin di situlah kekuatan pameran ini berada: pada kemampuannya membuat lukisan terasa bukan sekadar benda visual, melainkan wadah bagi energi, kontemplasi, dan doa-doa yang diam-diam menetap di permukaannya.

(Red) **

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Peringati Haornas, Cimahi Lepas 884 Personel ke Porprov XV Jabar
Pemkot Bandung Salurkan Bantuan untuk 1.832 Keluarga Rentan Pangan dan Risiko Stunting
DPRD Hanya Berwenang Setujui APBD, Tak Boleh Atur Proyek – APAK Jabar
KELOM Bandung Rayakan HUT ke-81 RI Lewat Lomba dan Kebersamaan
Irfan Lubis,SH.MH Kembali Terpilih Pimpin DPD MIO Indonesia Bogor Raya Periode 2026–2031
KEPMENDAGRI yang Harus Dipatuhi ASN Kepala Daerah
Momen Maulid Nabi Muhammad SAW di Cikarang Selatan, Santri dan Jamaah Doakan Anggota DPRD Putri Ramadhanty Tetap Amanah
Lapas Sibolga Gandeng Pemkot dan Perguruan Tinggi Kembangkan Budidaya Ikan untuk Ketahanan Pangan

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 17:43 WIB

Pemkot Bandung Salurkan Bantuan untuk 1.832 Keluarga Rentan Pangan dan Risiko Stunting

Selasa, 8 September 2026 - 17:17 WIB

DPRD Hanya Berwenang Setujui APBD, Tak Boleh Atur Proyek – APAK Jabar

Minggu, 6 September 2026 - 18:11 WIB

KELOM Bandung Rayakan HUT ke-81 RI Lewat Lomba dan Kebersamaan

Minggu, 6 September 2026 - 01:44 WIB

Irfan Lubis,SH.MH Kembali Terpilih Pimpin DPD MIO Indonesia Bogor Raya Periode 2026–2031

Minggu, 6 September 2026 - 00:49 WIB

KEPMENDAGRI yang Harus Dipatuhi ASN Kepala Daerah

Minggu, 6 September 2026 - 00:23 WIB

Momen Maulid Nabi Muhammad SAW di Cikarang Selatan, Santri dan Jamaah Doakan Anggota DPRD Putri Ramadhanty Tetap Amanah

Jumat, 4 September 2026 - 19:31 WIB

Ngatiyana: Rotasi Pejabat untuk Perkuat Pelayanan Publik

Kamis, 3 September 2026 - 18:49 WIB

Wali Kota Ngatiyana Ngawangkong Bari Ngaronda di Padasuka

Berita Terbaru