Tambal Sulam Irigasi Lawe Harum: Proyek Rp26 Miliar Dipertanyakan, Petani Menjerit

ANALISA NEWS

- Redaksi

Jumat, 1 Mei 2026 - 01:04 WIB

50200 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUTACANE |  Proyek rehabilitasi jaringan irigasi Lawe Harum di Aceh Tenggara seharusnya membawa harapan baru untuk petani. Dengan kucuran dana negara sebesar Rp26,27 miliar, publik layak berharap ada perubahan nyata dan jaminan air untuk sawah serta ladang mereka. Namun, realitas di lapangan memperlihatkan wajah buram proyek besar: irigasi yang baru selesai dikerjakan sudah dipenuhi retakan, bekas banjir cuma disapu semen, dan pengerjaan lantai sekadar menumpang di atas konstruksi lama. Praktek tambal sulam seperti ini lebih mirip upaya menutupi persoalan daripada membangun solusi.

Nama besar PT Hutama Karya (Persero) terpajang di papan proyek, didampingi konsultan Agrinas Jaladri. Tak ketinggalan, proyek ini terang-terangan berada di bawah payung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Tapi di lapangan, hasil pekerjaan justru memancing pertanyaan, bukan rasa aman. Aduan datang berulang kali dari warga setempat dan petani. Dinding irigasi yang seharusnya rapi dan kokoh mudah ditemukan berlubang, betonnya tidak padat, serta ada bekas patchwork kasar yang menutupi titik rusak akibat banjir. Ironisnya, pengecoran lantai irigasi tak membongkar atau memperkuat struktur lama. Cara seperti ini justru membahayakan umur bangunan dan mengancam sawah yang sangat bergantung pada distribusi air irigasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saleh Selian, aktivis Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Aceh Tenggara, terang-terangan menuding proyek irigasi Lawe Harum dikerjakan asal jadi. “Ini proyek besar dengan anggaran puluhan miliar rupiah, tapi hasilnya seperti pekerjaan tambal sulam. Kalau terus begini, masyarakat hanya dapat proyek gagal sementara kontraktor jalan terus,” ujar Saleh. Ia menyampaikan kegelisahan warga yang sudah bosan dengan proyek strategis yang hanya berhenti di papan nama dan laporan dokumen, tanpa pertanggungjawaban hasil di lapangan yang nyata dan bisa dirasakan masyarakat secara langsung.

Yang lebih janggal, pengerjaan proyek ini dinilai Saleh seperti kebal kritik dan pengawasan. Ia menegaskan ada kesan pembiaran dalam pengawasan mandat negara. “Begini saja sudah mulus lolos, padahal cacat pekerjaan kasat mata. Ke mana pengawasan? Kita perlu audit nyata, bukan sekedar formalitas laporan. Proyek negara semestinya berpihak ke petani, bukan cuma menghabiskan dana,” sebutnya. Saleh pun menuntut transparansi dan meminta penegak hukum turun tangan, karena proyek vital seperti ini sangat menentukan nasib ribuan petani Aceh Tenggara.

Lebih jauh, publik sulit mendapatkan akses informasi detail soal progres, uji mutu, hingga siapa yang berwenang menegur pelaksana jika ada pelanggaran. Disinggung soal dampak, proyek irigasi ini mempertaruhkan nasib seluruh sektor pertanian setempat. Jika saluran tidak kuat—retak lalu bocor—mimpi ketahanan pangan daerah hanya jadi wacana. Potensi gagal panen adalah risiko yang nyata.

Fakta lain yang tak kalah mencolok adalah kerasnya regulasi konstruksi irigasi yang dilanggar. Baik Undang-Undang tentang Jasa Konstruksi maupun Peraturan Menteri tentang teknis pembangunan irigasi telah mewajibkan pengujian dan jaminan mutu di setiap tahap. Tapi fakta di lapangan menunjukkan kaidah-kaidah itu diabaikan demi pengerjaan cepat dan setengah hati. Kontraktor dan konsultan pengawas seolah tutup mata. Aparat yang mestinya menegakkan standar justru diam di pojok.

Hingga berita ini ditulis, belum ada satu pun pernyataan resmi dari pelaksana atau instansi terkait yang memberi penjelasan atau jawaban atas deretan kejanggalan. Suara masyarakat diabaikan, petani dibiarkan menunggu, dan negara sekali lagi membiarkan celah pemborosan uang publik terbuka lebar. Proyek irigasi Lawe Harum kini menjelma menjadi pelajaran pahit: jika pengawasan pudar dan mutu dibiarkan mati, maka laporan proyek strategis hanya jadi tumpukan dokumen, sementara petani dan rakyat kecil menanggung risiko di kemudian hari.

(RED)

Berita Terkait

Yahdi Hasan Ajak Masyarakat Nikmati Durian Kutacane, Panen Alami Jadi Jaminan Kualitas
Babinsa Kodim 0108/Agara Kebut Pemasangan Sling Jembatan Gantung Perintis, Akses Dua Desa di Ketambe Segera Terhubung
Kodim 0108/Agara Tuntaskan 83 Persen Jembatan Gantung Perintis 248 Meter, Segera Hubungkan Dua Kecamatan di Aceh Tenggara
Kodim 0108/Agara Kebut Pemasangan Hanger, Jembatan Gantung Teger Miko Masuki Fase Penentu
Dana Ketahanan Pangan Lembah Haji Diduga Menyimpang: Rp134 Juta untuk Siapa?
Peduli Korban Kebakaran, Yahdi Hasan Turun Langsung Salurkan Bantuan untuk Warga Batu Bulan I
Mudahkan Urusan Rumah Tangga, ‘Maulana Laundry’ Kini Hadir di Desa Kuning 1 Bambel dengan Layanan Antar-Jemput
Sentuhan Rohani di Balik Jeruji, Kapolres Aceh Tenggara Hadirkan Ustaz untuk Bina Warga Tahanan

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 14:07 WIB

Bursa Capres 2029 : Prabowo, Samsuri, S.Pd.I, M.A dan Anies, 3 Nama Calon Kuat untuk Pilpres 2029

Selasa, 7 Juli 2026 - 19:30 WIB

Sulit Ditemui Wartawan, Kebijakan Humas Kemenimipas Alokasi Anggaran Publikasi Diduga Tebang Pilih

Selasa, 7 Juli 2026 - 01:04 WIB

Framing Negatif terhadap AHY dan Ibas Harus Dihentikan, Ruang Publik Harus Diisi dengan Fakta

Minggu, 5 Juli 2026 - 14:01 WIB

Ucapan Apresiasi dan Terima Kasih atas Dedikasi Irjen Pol. Agus Suryonugroho Selama Menjabat sebagai Kakorlantas Polri

Minggu, 5 Juli 2026 - 01:18 WIB

Satgas Pamtas RI-PNG yonif 645/Gty Laksanakan Kegiatan Teritorial Anjangsana Kemasyarakat di Distrik Napua

Jumat, 3 Juli 2026 - 13:45 WIB

Melalui BNIdirect Bisnis, BNI Dukung Efisiensi Pengelolaan Keuangan UMKM

Rabu, 1 Juli 2026 - 17:38 WIB

Sentuhan Kemanusiaan Kapolres Klaten Selamatkan Bayi Terlantar, DPP LPPI: Sosok Polisi yang Mengayomi Rakyat

Selasa, 30 Juni 2026 - 12:23 WIB

Rumah Moderasi Bersama Polri Serukan Orang Tua Aktif Melindungi Anak Dari Bahaya Radikalisme Diruang Digital

Berita Terbaru