BANDUNG,ANALISANEWS.ID — Tradisi pembentangan Bendera Merah Putih raksasa kembali digelar di Jembatan Flyover Pasupati, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). Aksi ini menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebagai inisiator, komunitas Bogalakon “99% Gede Milik 1% Modal Bengeut Hese Paehna “ yang diketuai Aditya Barli, kembali memimpin aksi kolektif tersebut.

Aditya Barli menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan gerakan kesadaran untuk menjaga identitas Kota Bandung sebagai kota yang inklusif dan toleran.
“Ini tradisi lima tahun berturut-turut yang kami lakukan dengan satu tujuan utama: membangun kesadaran tentang pentingnya arti persaudaraan di Kota Bandung. Kita ingin mempertegas bahwa Bandung adalah kota yang toleran, dan identitas itu harus terus kita jaga bersama,” tegas Aditya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai kelompok masyarakat mulai dari generasi muda, seniman, hingga pegiat sosial. Sejumlah komunitas yang turut berkolaborasi di antaranya DRP (Disaster Response Project), Little Project, Paguyuban Cepot Motah, KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) Jawa Barat, dengan semangat Silih Asah Silih Asih Silih Asuh Silih Wangunkeun, serta komunitas Bikers, para seniman dan budayawan.
Wakil Wali Kota Bandung, H. Erwin, turut hadir menyaksikan langsung kegiatan tersebut. Kehadiran pemerintah daerah dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap pergerakan berbasis komunitas.
Meski demikian, Aditya mendorong Pemerintah Kota Bandung untuk lebih aktif menggali dan mengakselerasi potensi kemasyarakatan yang belum terakomodasi secara optimal. Ia juga menyampaikan kritik konstruktif kepada Dinas Kebudayaan dan instansi pendidikan.

“Pemerintah jangan memandang budaya sebatas pertunjukan seni semata, melainkan sebagai _way of life_ atau cara hidup. Program kebudayaan harus mampu menginternalisasi nilai _silih asah, silih asih, silih asuh_ dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Aditya.
Ia menilai diperlukan pendekatan “seni pendidikan” serta peningkatan kualifikasi tenaga pengajar secara berkelanjutan untuk mewujudkan tatanan Panca Waluya secara nyata.
Menutup keterangannya, Aditya menekankan pentingnya beralih dari wacana ke aksi nyata. Ia menyebut kendala teknis di lapangan justru menjadi ruang latihan untuk mengasah kreativitas dan daya juang komunitas.
“Bandung sudah terlalu banyak narasi. Sekarang saatnya kita melangkah dan berkarya nyata. Jadikan pribadi kita masing-masing sebagai jalan kontribusi positif untuk mewujudkan harapan bersama,” pungkasnya.
Kedepan, penyelenggaraan kegiatan ini direncanakan akan dilakukan secara estafet antar-komunitas secara bergantian. Langkah itu diharapkan menjadi wadah penyerapan potensi lokal sekaligus inspirasi bagi pola kehidupan bermasyarakat di Bandung.**Ipung


































