Peran Tegas Advokat Hayatul Makin S.H., Kawal Sidang Pembunuhan di PN Banyuwangi

REDAKSI MEDAN

- Redaksi

Rabu, 22 April 2026 - 08:42 WIB

50164 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banyuwangi —

Sosok penasihat hukum Hayatul Makin, S.H., menjadi perhatian publik dalam persidangan kasus pembunuhan karyawati BCA di Pengadilan Negeri Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam sidang terbuka yang digelar Selasa, 21 April 2026, klien yang didampinginya, Gandhi Dibya Frandana, divonis 13 tahun penjara dan menyatakan menerima putusan tanpa mengajukan banding.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


Sejak awal proses persidangan, advokat yang tergabung dalam organisasi PERADI tersebut tampil konsisten mengawal jalannya proses hukum.

Hayatul Makin menegaskan bahwa peran penasihat hukum bukan membenarkan perbuatan terdakwa, melainkan memastikan seluruh proses berjalan sesuai prinsip keadilan dan hukum yang berlaku.

“Kami hadir untuk memastikan hak hukum klien tetap terlindungi. Meski dia bersalah, setiap warga negara tetap berhak memperoleh proses hukum yang adil dan berkeadilan,” tegas Hayatul Makin usai sidang.

Kasus yang menyita perhatian publik itu bermula dari peristiwa tragis di Banyuwangi.

Terdakwa Gandhi Dibya Frandana terbukti melakukan pembunuhan terhadap istrinya, Budi Widiyanti, seorang karyawati BCA.

Jaksa Penuntut Umum Gede Agastia Erlandi, S.H., M.H., menegaskan perkara tersebut murni tindak pidana pembunuhan sebagaimana Pasal 338 KUHP, bukan kekerasan dalam rumah tangga seperti yang sempat berkembang di masyarakat.

Dalam fakta persidangan terungkap latar belakang keluarga pasangan tersebut. Terdakwa menikahi korban saat korban berstatus janda dengan dua anak perempuan yang kini masing-masing bersekolah di tingkat SMA dan menempuh pendidikan perguruan tinggi di Jember.

Usia keduanya terpaut 12 tahun, di mana saat kejadian pelaku berusia 42 tahun sementara korban berusia 54 tahun. Dari pernikahan mereka, pasangan ini memiliki seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP Negeri 4 Banyuwangi.

Peristiwa pembunuhan terjadi setelah terdakwa pulang mengantar anaknya ke sekolah.

Di rumah, ia mengambil pisau dapur lalu menusuk korban yang baru selesai mandi sebanyak dua kali di bagian dada hingga meninggal dunia.

Di persidangan, terdakwa mengaku tertekan persoalan keuangan di tempat kerjanya yang mencapai sekitar Rp1,6 miliar dan tidak ingin sang istri mengetahui masalah tersebut.

Hayatul Makin menjelaskan, sejak awal tim penasihat hukum memahami bahwa perkara tersebut diproses sebagai tindak pidana pembunuhan.

Pihaknya juga menghormati tuntutan jaksa yang sebelumnya meminta hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Menurutnya, sikap kooperatif terdakwa selama persidangan menjadi salah satu pertimbangan majelis hakim menjatuhkan vonis 13 tahun penjara.

Terdakwa dinilai mengakui perbuatannya, menyesal, tidak berbelit-belit, serta belum pernah dihukum sebelumnya.

Selain itu, terdakwa juga merupakan satu-satunya orang tua bagi anaknya yang masih berstatus pelajar.

Putusan tersebut akhirnya diterima oleh terdakwa tanpa upaya hukum lanjutan.

Bagi Hayatul Makin, perkara ini menjadi pengingat bahwa peran advokat bukan sekadar membela, tetapi menjaga keseimbangan antara kepastian hukum, rasa keadilan, dan kemanusiaan dalam setiap proses peradilan.

“Penegakan hukum harus tetap memberi ruang keadilan bagi semua pihak. Itulah fungsi advokat dalam sistem peradilan,” pungkasnya.(AVID)

Berita Terkait

Kuasa Hukum Sebut Harga Lelang Tak Wajar, Kasus Gugatan PMH Terus Berlanjut
Ardiansyah Saragih Apresiasi Kapolri: Polri Tunjukkan Kinerja Gemilang dalam Pengungkapan 1,1 Ton Sabu
UPT Pemasyarakatan se-Tanjung Gusta Medan Bersinergi Melaksanakan Penanaman Pohon: Lapas Kelas I Medan Lanjutkan Aksi dengan Panen Jagung
Doa dan Kebersamaan di Sela Rutinitas Puasa Senin-Kamis Masjid Jamik Kebun Bunga
Lapas Sibolga dan PIPAS Gelar Bakti Sosial di SDN Hutanabolon 1, Libatkan Warga Binaan Pulihkan Fasilitas Sekolah Pascabanjir
Wujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan, Rutan Tanjung Pura Kembangkan Lahan Adaptif Cuaca
Tinjau Langsung Pembinaan dan Layanan, Anggota Komisi XIII DPR RI Apresiasi Program Kemandirian Lapas Sibolga
Tinggalkan Paham Radikalisme, Napiter Lapas Perempuan Kelas IIA Medan Ucapkan Ikrar Setia NKRI

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 04:10 WIB

Bupati Ngamuk, Bantuan Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pusat Ternyata Rongsokan, Jalan Baru Ditimbun Langsung Amblas Lagi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:18 WIB

Ironi di Desa Kuning 1 Bambel: Saat Gubernur Aceh Dituding Tak Peduli, Warga Justru Memanggil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Kapolres Aceh Tenggara diwakili Wakapolres Hadiri Kegiatan Minggu Kasih di HKBP Maranatha,, Ajak Jemaat Jaga Kamtibmas

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:33 WIB

Alat Berat Bantuan PRR Rusak, Bupati Aceh Tenggara Kecewa Pada Vendor

Minggu, 25 Oktober 2026 - 01:05 WIB

Ada Apa dengan Kematian Cepat Ishak Alias Ical Setelah Diamankan Tim Gabungan Lapas dan Polres, Standar Penanganan Medisnya Dipertanyakan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Polisi Bersama Masyarakat, Polres Aceh Tenggara Sentuh Hati Penghuni Rutan Lewat Siraman Rohani

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Seorang Perempuan dengan 34 Paket Sabu

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Perkuat Silaturahmi dan Jaga Kamtibmas, Kapolres Aceh Tenggara Diwakili Wakapolres Sambangi Masyarakat Desa Pulonas

Berita Terbaru