ACEH TENGAH — Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional mulai didorong melalui pengembangan komoditas bawang putih di dataran tinggi Gayo. Polda Aceh bersama Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melaksanakan penanaman bawang putih serentak di Kampung Paya Tungel, Kecamatan Jagong Jeget, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan bersama Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, yang mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Turut hadir Kepala Dinas Pangan Aceh Surya Reyendra, Kabid Hortikultura Distanbun Aceh Ir. Chairil Anwar, MP, Bupati Aceh Tengah Hailil Yoga, Wakil Bupati Muchsin Hasan, Kapolres Aceh Tengah AKBP Muhammad Taufik, S.I.K., MH, Kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah Nasrun Liwanza, unsur Forkopimda, kelompok tani serta masyarakat.
Penanaman di Aceh Tengah tersebut menjadi bagian dari gerakan penanaman bawang putih secara serentak yang terhubung secara virtual dengan 14 provinsi. Kegiatan nasional itu dipimpin Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bersama Menteri Pertanian, Menko Pangan, Ketua Komisi IV DPR RI dan jajaran pemerintah pusat.
Dorong Swasembada Bawang Putih 2029
Program penanaman bawang putih merupakan kolaborasi Kementerian Pertanian dan Polri untuk memperluas areal pengembangan bawang putih di Indonesia. Pemerintah menargetkan swasembada bawang putih dapat terwujud pada 2029.
Untuk tahun ini, Kementerian Pertanian menargetkan dukungan penanaman melalui Polri sekitar 4.840 hektare di berbagai wilayah Indonesia.
Di Kampung Paya Tungel, pengembangan bawang putih disiapkan pada lahan sekitar 1,75 hektare. Khusus untuk tahap penanaman serentak, digunakan lahan seluas 1.250 meter persegi dengan bibit sebanyak 10 kilogram varietas Lumbu Hijau yang berasal dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Tengah.
Setelah penanaman perdana, pengembangan lahan akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan perencanaan dan kesiapan lahan serta petani.
Aceh Masih Hadapi Persoalan Bibit
Plt. Kadistanbun Aceh Azanuddin Kurnia menegaskan bahwa penanaman tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari langkah konkret pemerintah dalam mengejar target swasembada pangan.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam pengembangan bawang putih salah satunya adalah keterbatasan ketersediaan bibit.
“Kita harus mulai dari sekarang, walaupun tantangan tetap ada. Hampir di semua provinsi masih menghadapi kesulitan bibit bawang putih,” kata Azanuddin.
Ia berharap Kementerian Pertanian dapat memperkuat produksi bibit melalui para penangkar di daerah yang selama ini menjadi sentra bawang putih, seperti Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Bila bibit tersedia, Insya Allah akan memudahkan untuk proses lainnya,” ujarnya.
Azanuddin menjelaskan, kondisi agroklimat menjadi faktor penting dalam pengembangan bawang putih di Aceh. Komoditas tersebut idealnya ditanam pada ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Karena itu, wilayah yang dinilai paling sesuai untuk pengembangan bawang putih berada di kawasan dataran tinggi, khususnya Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.
Pemerintah Aceh mendorong pemerintah kabupaten di kawasan tersebut agar memberikan pendampingan maksimal kepada petani dan memastikan program yang telah disusun bersama Kementerian Pertanian benar-benar berjalan hingga tahap produksi.
Kementerian Pertanian sendiri direncanakan mengembangkan sekitar 22 hektare bawang putih di kawasan dataran tinggi Gayo pada tahun ini.
Bawang Putih Masih Didatangkan dari Luar Aceh
Persoalan swasembada menjadi penting karena Aceh hingga kini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan bawang putih dan bawang merah.
Berdasarkan data 2025 yang disampaikan Distanbun Aceh, produksi bawang merah mencapai 132.815,5 kuintal, dengan produktivitas 107,3 kuintal per hektare dan luas panen 1.237,3 hektare.
Sementara produksi cabai merah mencapai 1.842.242,7 kuintal, dengan produktivitas 178,3 kuintal per hektare dari luas lahan 10.334,76 hektare.
Berbeda dengan bawang putih dan bawang merah, produksi cabai merah Aceh disebut telah mengalami surplus.
Azanuddin menilai peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga. Sebab, komoditas hortikultura tersebut memiliki pengaruh terhadap inflasi di Aceh.
Polri Dorong Dampak Ekonomi bagi Petani
Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan mengatakan pengembangan bawang putih di Aceh Tengah memiliki arti strategis, bukan hanya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, tetapi juga dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Pengembangan komoditas bawang putih di Aceh Tengah diharapkan mampu mendorong kemandirian pangan, membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat, serta menjadi salah satu model percontohan pertanian terpadu yang berkelanjutan,” ujar Ruddi.
Ia menegaskan keberhasilan program tersebut membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara Polri, pemerintah daerah, kelompok tani dan masyarakat.
Menurutnya, penanaman harus diikuti dengan pengawalan dan pendampingan agar produktivitas pertanian meningkat dan manfaatnya benar-benar dirasakan petani.
Penanaman Diiringi Bantuan Sosial dan Layanan Kesehatan
Kunjungan Kapolda Aceh ke Aceh Tengah juga dirangkai dengan kegiatan sosial. Sebanyak 500 paket bantuan sosial disalurkan kepada masyarakat kurang mampu serta korban kebakaran di Kampung Jeget Ayu.
Bantuan tersebut berisi beras, minyak goreng, gula pasir, telur dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya.
Selain itu, Polda Aceh melalui Polres Aceh Tengah menghadirkan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat. Gerai kesehatan yang dipimpin Kabiddokkes Polda Aceh Kombes Pol. dr. Dafianto Arief memberikan pemeriksaan kesehatan serta pelayanan pengobatan kepada warga.
Dengan penanaman bawang putih, bantuan sosial dan pelayanan kesehatan tersebut, sinergi pemerintah dan Polri di Aceh Tengah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut melalui pengawalan produksi, pendampingan petani dan penguatan ekonomi masyarakat.
( RED )































