TEROR TERHADAP WARTAWAN FRN ACEH MAKIN BRUTAL! Agus Suriadi Minta Kapolda Perintahkan Kapolres Subulussalam Ringkus Semua Pelaku, Dari OTK Hingga Dalang Intimidasi di Kantor Desa

ANALISA NEWS

- Redaksi

Minggu, 3 Mei 2026 - 23:48 WIB

5087 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH | Kasus teror yang menimpa Syahbudin Padang. Wakil Ketua DPW FRN Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh, kini memasuki babak yang semakin memprihatinkan dan mengundang kemarahan publik.

Bukan hanya rumah diteror dan kaca mobil pribadinya dipecahkan oleh Orang Tak Dikenal (OTK), Syahbudin juga diduga mengalami intimidasi brutal saat mengawal dugaan pencurian buah sawit milik warga di Kantor Desa Sikalondang, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.

Yang lebih mengejutkan, di lokasi tersebut disebut-sebut sempat terlontar kata-kata bernada ancaman:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bunuh Syahbudin Padang!”

“Usir Syahbudin Padang dari sini!”

Ucapan bernada kekerasan itu kini menjadi sorotan serius karena dinilai bukan lagi sekadar ketegangan biasa, melainkan bentuk ancaman terbuka terhadap keselamatan seorang wartawan yang sedang menjalankan fungsi kontrol sosial.

Ketua DPW FRN Aceh Murka, Minta Kapolda Aceh Turun Tangan Menyikapi rentetan kejadian itu, Ketua DPW Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh, Agus Suriadi, angkat bicara dengan nada sangat keras.

Ia mendesak Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Alibasyah agar tidak tinggal diam dan segera memerintahkan Kapolres Subulussalam untuk menangkap seluruh pihak yang terlibat dalam aksi teror dan intimidasi terhadap Syahbudin Padang.

“Saya meminta Bapak Kapolda Aceh agar segera memerintahkan Kapolres Subulussalam merangkap, memburu, dan menangkap semua pelaku teror terhadap anggota kami. Bukan hanya pelaku pelempar kaca mobil oleh OTK, tetapi juga seluruh pihak yang melakukan intimidasi, ancaman, dan pengusiran di Kantor Desa Sikalondang,” tegas Agus Suriadi, Minggu (03/05/2026).

Menurut Agus, kejadian yang dialami Syahbudin bukan peristiwa biasa. Ada pola tekanan berulang yang patut diduga terstruktur.Ada Teriakan “Bunuh” dan “Usir”, Kenapa Justru Wartawan yang Diusir?

Agus menilai sangat aneh dan janggal ketika Syahbudin Padang yang datang mengawal aspirasi warga justru menjadi pihak yang diusir dari kantor desa.

Padahal secara moral, wartawan memiliki hak melakukan peliputan, pengawasan sosial, dan pendampingan terhadap masyarakat yang mencari keadilan.

“Pertanyaan besarnya, kenapa Syahbudin Padang yang diusir? Apa kapasitas pemerintah desa melakukan pengusiran terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas sosial kontrol? Siapa yang memberi keberanian sampai muncul teriakan bunuh dan usir?” kecam Agus.

Ia menilai tindakan tersebut sudah melewati batas kewenangan pemerintahan desa dan harus diusut dari hulu ke hilir.

Sebab kantor desa adalah ruang pelayanan publik, bukan arena membungkam wartawan atau tempat melahirkan ancaman kekerasan.

Diduga Ada Dalang Besar di Balik Rangkaian Intimidasi FRN Aceh mencurigai rentetan peristiwa yang dialami Syahbudin Padang — mulai dari teror pelemparan kaca mobil, tekanan saat mengawal kasus sawit, hingga pengusiran dan ancaman verbal di Kantor Desa Sikalondang — bukan kejadian yang berdiri sendiri.

Ada dugaan kuat semua ini saling berkaitan.Kami menduga ada dalang besar di balik semua rangkaian ini. Tidak mungkin anggota kami diteror berkali-kali saat sedang aktif mengawal persoalan masyarakat kalau tidak ada pihak yang merasa terusik. Karena itu penyelidikan harus dilakukan secara mendalam sampai terbongkar siapa aktor intelektualnya,” ujar Agus lagi.

Menurutnya, aparat tidak boleh hanya melihat kasus ini sebagai insiden spontan.
Karena jika tidak dibongkar serius, maka akan muncul kesan bahwa ada upaya sistematis untuk menakut-nakuti wartawan agar berhenti membela kepentingan rakyat kecil.

Syahbudin: Saya Datang Bela Warga, Kenapa Saya Mau Dibunuh dan Diusir?
Syahbudin Padang sendiri mengaku sangat terpukul dengan peristiwa tersebut.

Ia mengatakan dirinya datang bukan membuat keributan, melainkan menjalankan fungsi wartawan dan sosial kontrol untuk memastikan hak warga korban dugaan pencurian sawit tidak diabaikan.Namun yang diterimanya justru suasana mencekam, intimidasi, hingga teriakan pengusiran.

“Saya datang untuk bela warga yang merasa dirugikan. Tapi kenapa saya yang mau dibunuh, saya yang mau diusir? Ini pertanyaan besar. Ada apa sebenarnya? Siapa yang takut kalau kasus ini terbuka?” ungkap Syahbudi

Ia menegaskan sampai hari ini dirinya masih menunggu kepastian hukum atas seluruh bentuk ancaman yang menimpanya.

Desakan Keras: Kapolres Subulussalam Jangan Diam FRN Aceh menilai Kapolres Subulussalam harus bergerak cepat, serius, dan transparan.

Bukan hanya menyelidiki pelaku lapangan, tetapi juga mendalami semua pihak yang diduga menjadi provokator, penggerak, atau dalang dari intimidasi terhadap Syahbudin.

“Jangan sampai masyarakat menilai hukum hanya tajam ke bawah tetapi tumpul terhadap pihak-pihak yang punya pengaruh. Semua yang terlibat harus dipanggil dan diperiksa,” tegas Agus.

Hari Pers Nasional Berubah Jadi Hari Duka Kebebasan Pers

Di momentum Hari Pers Nasional, tragedi yang dialami Syahbudin Padang menjadi simbol bahwa wartawan di daerah masih jauh dari rasa aman.Teror OTK belum terungkap.Ancaman pembunuhan muncul di kantor desa.Wartawan malah diusir ketika bela warga.

Lalu publik bertanya: masih pantaskah kebebasan pers disebut hidup jika wartawan yang bersuara justru dibungkam dengan ancaman?

Berita Terkait

Ketua Fast Respon Counter Polri Nusantara DPW Aceh Ucapkan Selamat Hari Ulang Tahun Kapolda Aceh
Bea Cukai Aceh Turut Bahas Sekuritas Bandara Sultan Iskandar Muda
Bea Cukai Aceh Musnahkan Barang Hasil Penindakan Senilai Rp1,83 Miliar
Nomor 0811683833 Milik Ketua Fast Respon Counter Polri Nusantara DPW Aceh Diduga Diretas, Masyarakat Diminta Waspada
SK Fungsional Terbit Setelah Dilantik Jadi Irban, Pengangkatan Abdullah di Inspektorat Aceh Disorot Pengamat Hukum
Agustus 2026 Azanuddin Kurnia Terima Dua Penghargaan Bergengsi
Serentak di 36 Kota, POGI Aceh dan Pegadaian Gelar Merdeka Stunting 2026
Kaukus Nusantara Desak Pemekaran ALA dan ABAS Jadi Solusi Jaga Keutuhan NKRI Pasca-Kericuhan di Aceh

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 19:32 WIB

Satukan Langkah, Eratkan Kebersamaan untuk Negeri, Yonif TP 852/ABY Bersama Insan Pers

Senin, 21 September 2026 - 21:38 WIB

Gawat! Janji Tinggal Janji, Jalan Rusak Parah di Dusun 5 Lorong Pertiwi Desa Kolam Tak Kunjung Diperbaiki Sejak 2020 Hingga 2026

Senin, 31 Agustus 2026 - 23:19 WIB

Karang Taruna Buntu Bedimbar Jadi yang Terdepan untuk Penggerak Gebyar AKBAR HUT RI ke 81

Senin, 31 Agustus 2026 - 05:46 WIB

Karang Taruna Buntu Bedimbar Jadi Penggerak Gebyar AKBAR HUT RI ke-81

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:05 WIB

GEBYAR AKBAR BUNTU BEDIMBAR MERIAHKAN HUT REPUBLIK INDONESIA YANG KE-81

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 08:15 WIB

Respon Cepat Diharapkan, Kapolsek Tanjung Morawa Didesak Tindak Anggota Diduga Tak Respons Laporan Geng Motor

Jumat, 31 Juli 2026 - 16:54 WIB

Legenda Kuliner Sejak 1968: Bakso Amat Kini Hadir di Jalan Batang Kuis, Tawarkan Kelezatan Iga Asli yang Menggoda Selera

Sabtu, 25 Juli 2026 - 01:24 WIB

Kasus DBD Anak di Desa Dalu 10A Dusun 5: Warga Protes Kerja Bakti Tidak Merata dan Desak Tindakan Nyata

Berita Terbaru