PKC PMII Jawa Barat Soroti Paradoks Pembangunan, Angka Anak Tidak Sekolah hingga Program MBG

ANALISA NEWS

- Redaksi

Rabu, 8 Juli 2026 - 21:04 WIB

50150 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandung – Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Barat menggelar diskusi publik bertajuk **”Paradoks Indonesia, Paradoks Jawa Barat: Ke Mana Arah Keberpihakannya?”** sebagai ruang kritik dan refleksi terhadap berbagai persoalan pembangunan yang dinilai masih menyisakan ketimpangan, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Kegiatan yang berlangsung di Angkringan Langkah, Jalan Cijawura III, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung, pada Selasa (16/6/2026), dihadiri Ketua PKC PMII Jawa Barat Rusli Hermawan bersama ratusan kader PMII dari berbagai cabang se-Jawa Barat. Forum ini juga melibatkan perwakilan komunitas pengemudi ojek online (ojol) sebagai representasi masyarakat yang merasakan langsung dampak kebijakan publik.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Riki Ramdhan Fadilah, mengatakan diskusi tersebut merupakan bentuk komitmen PMII dalam mengawal berbagai persoalan kerakyatan di tengah kondisi nasional dan daerah yang dinilai penuh kontradiksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, masih terdapat kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi yang kerap ditampilkan melalui indikator makro dengan kondisi kesejahteraan masyarakat di lapangan.

“Diskusi ini kami gagas karena melihat adanya jurang pemisah yang lebar antara pertumbuhan ekonomi dengan realitas kesejahteraan masyarakat. Kita melihat di tingkat nasional, warisan keadilan sosial Bung Karno belum sepenuhnya membumi,” ujar Riki.

Riki yang juga menjabat sebagai Ketua Biro Komunikasi, Hubungan Pemerintah, dan Advokasi Kebijakan Publik PKC PMII Jawa Barat menyoroti kondisi Jawa Barat yang masih menghadapi berbagai persoalan sosial, khususnya di sektor pendidikan. Ia menyebut provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia tersebut masih mencatat angka Anak Tidak Sekolah (ATS) tertinggi secara nasional berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Selain isu pendidikan, diskusi juga mengulas sejumlah kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Berbagai persoalan yang menjadi perhatian meliputi pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai semakin menekan daya beli masyarakat, terutama pekerja sektor informal seperti pengemudi ojol.

Forum tersebut juga menyoroti implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurut peserta diskusi masih menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

“Beberapa isu krusial yang kami bedah di antaranya pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga BBM yang menekan daya beli masyarakat informal seperti ojol, hingga karut-marut implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai masih minim pengawasan dan menyisakan kasus keracunan di sejumlah daerah,” kata Riki.

Tak hanya membahas persoalan ekonomi dan sosial, diskusi tersebut turut merefleksikan dinamika gerakan mahasiswa nasional. Salah satu isu yang mengemuka adalah insiden penolakan dialog oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) saat kunjungan Presiden yang memunculkan perdebatan mengenai posisi gerakan mahasiswa dalam mengawal jalannya pemerintahan.

“Peristiwa tersebut memicu perdebatan penting mengenai bagaimana mahasiswa hari ini harus memosisikan diri, apakah tetap menjaga jarak kritis atau mengoptimalkan ruang dialog sebagai instrumen pengawasan,” ujarnya.

Melalui forum ini, PKC PMII Jawa Barat di bawah kepemimpinan Rusli Hermawan menegaskan komitmennya untuk terus menjadi motor konsolidasi gerakan mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik yang berpihak kepada masyarakat.

PMII menilai keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari capaian statistik makroekonomi semata, melainkan dari sejauh mana keadilan sosial dan keberpihakan negara benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.

“Ukuran keberhasilan pembangunan bukanlah deretan angka statistik makroekonomi, melainkan sejauh mana keadilan dan keberpihakan negara dapat dirasakan nyata oleh masyarakat di akar rumput,” tutup Riki. (REDAKSI)

Berita Terkait

20. Dugaan Penganiayaan di BPN Kota Bandung, Korban Serahkan Hasil Radiologi kepada Polisi
Ribuan Warga Padati Festival Asia Afrika, Bandung Semakin Mendunia
BADKO HMI Jawa Barat Gelar HMI GEMBIRA, Tebar Kebahagiaan Lewat Aksi Sosial
Balai I-VI DBMPR Jabar Disorot, ARM Sebut Banyak Temuan Dugaan Pelanggaran di Lapangan
Founder Rumah Saraswati: Generasi Muda Agar Tidak Terjebak Dalam Tindakan Anarkis
Ketut Adi Candra: Seniman Bali yang Menjadikan Lukisan sebagai Doa
Berbasis Data, BPS Serahkan Rekomendasi Statistik Sektoral kepada Wali Kota Bandung dalam Musrenbang RKPD 2027
Aliansi Mahasiswa Anti Mafia Hukum Gelar Aksi di Bandung, Desak Panglima TNI Usut Tuntas Aktor Intelektual Kasus Andrie Yunus

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Sinergitas TNI-Polri, Polsek Simpang Empat Berikan Imbauan Keselamatan kepada Masyarakat Pasca Erupsi Gunung Sinabung

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:16 WIB

Perkuat Sinergitas,Polres Karo Bersama Forkopimda Sambangi Markas TNI di HUT Ke-81

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Kapolres Karo Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

Selasa, 29 September 2026 - 18:08 WIB

Polres Karo Ungkap Kasus Curas Sebabkan Korban Meninggal Dunia, Dua Tersangka Diamankan

Senin, 28 September 2026 - 19:08 WIB

Polsek Tigapanah Gelar Sosialisasi Cegah Perundungan di SDN 040541 Suka Sipilihen

Jumat, 25 September 2026 - 12:56 WIB

Polres Karo Gelar Syukuran Hari Jadi Lalu Lintas ke-71

Kamis, 24 September 2026 - 16:25 WIB

Dari Limbah Jadi Cuan: USU Pelajari Inovasi Cascara Kopi Cimbang Sinabung di Karo

Selasa, 22 September 2026 - 18:45 WIB

Konsisten Bagi Makanan Gratis Selama 2 Tahun, DPC GRIB Jaya Medan Terima Bantuan dari Logistik Hamba Allah

Berita Terbaru