Lia Hambali Tegaskan Profesi Jurnalis Harus Dibedakan dari Pihak yang Sedang Dipersoalkan dalam Kasus Air Panas Doulu

ANALISA NEWS

- Redaksi

Kamis, 4 Juni 2026 - 02:59 WIB

50103 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TANAH KARO, Sumatera Utara — Viral di media sosial dan sejumlah unggahan yang menyinggung dugaan pungutan di kawasan Pemandian Air Panas Doulu, Kabupaten Karo, memunculkan sorotan luas dari publik. Di tengah ramainya perbincangan itu, Wakil Pimpinan Redaksi AgaraNws.com, Lia Hambali, menyampaikan klarifikasi tegas agar foto maupun keberadaannya di lokasi tidak dikaitkan dengan dugaan pungutan yang sedang menjadi bahan pembicaraan masyarakat.

Lia menegaskan bahwa dirinya memang berada di lokasi saat suasana ramai terjadi. Namun, kehadirannya semata-mata dalam kapasitas sebagai jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan. Menurut dia, posisi dan perannya di tempat kejadian tidak memiliki hubungan apa pun dengan dugaan pungutan yang kini beredar luas di ruang digital.

“Saya menyampaikan kepada seluruh masyarakat agar tidak melibatkan foto-foto saya dalam dugaan pungutan tersebut. Kebetulan saya berada di lokasi sebagai jurnalis dan menjalankan tugas peliputan. Kehadiran saya tidak ada kaitannya dengan persoalan yang sedang viral,” ujar Lia Hambali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Klarifikasi ini muncul setelah sejumlah foto dirinya beredar di media sosial dan dinilai berpotensi menimbulkan persepsi yang keliru di tengah publik. Dalam beberapa unggahan, Lia terlihat berada di lokasi, termasuk dalam satu dokumentasi saat memegang telepon genggam. Bagi sebagian warganet, potongan gambar seperti itu mudah ditafsirkan secara serampangan, apalagi ketika dipadukan dengan narasi yang belum terverifikasi. Situasi inilah yang menurut Lia perlu segera diluruskan agar tidak berkembang menjadi kesimpulan yang menyesatkan.

Ia menjelaskan, foto yang memperlihatkan dirinya memegang telepon genggam merupakan dokumentasi biasa saat berada di lapangan. Aktivitas tersebut, kata dia, sama sekali bukan bagian dari tindakan yang berkaitan dengan dugaan pungutan maupun persoalan yang melibatkan pengunjung. Dalam kerja jurnalistik, penggunaan telepon genggam di lokasi peristiwa merupakan hal yang lumrah, baik untuk mencatat informasi, berkomunikasi dengan narasumber dan redaksi, maupun mendokumentasikan perkembangan situasi.

Lia juga mengingatkan bahwa derasnya arus informasi di media sosial kerap membuat batas antara fakta, opini, dan asumsi menjadi kabur. Dalam konteks peristiwa yang sedang ramai dibicarakan, ia menilai publik perlu lebih berhati-hati agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Menurut dia, setiap informasi semestinya diverifikasi terlebih dahulu sebelum disebarluaskan atau dijadikan dasar untuk menilai seseorang.

“Saya menghimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum tentu kebenarannya. Setiap informasi harus diverifikasi terlebih dahulu agar tidak menimbulkan fitnah dan merugikan pihak lain,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus menyoroti persoalan yang lebih luas, yakni kecenderungan sebagian pengguna media sosial menarik kesimpulan hanya dari potongan foto, video singkat, atau narasi yang belum diuji. Dalam banyak kasus, seseorang yang kebetulan berada di lokasi peristiwa dapat dengan cepat terseret ke dalam pusaran opini publik, meski kehadirannya tidak berkaitan dengan substansi masalah. Risiko seperti ini semakin besar ketika unggahan viral dibagikan berulang-ulang tanpa konteks yang utuh.

Di lapangan, keberadaan jurnalis di lokasi peristiwa pada dasarnya merupakan bagian dari fungsi pers untuk mencari, mengumpulkan, dan menyampaikan informasi kepada publik. Kehadiran wartawan justru dibutuhkan agar fakta yang berkembang dapat dicatat secara lebih utuh dan tidak semata bergantung pada potongan informasi dari media sosial. Karena itu, Lia menilai penting bagi masyarakat untuk membedakan antara pihak yang menjalankan tugas peliputan dengan pihak yang benar-benar terlibat dalam persoalan yang sedang dipersoalkan.

Klarifikasi ini juga menjadi penting karena persoalan yang viral tidak hanya berdampak pada nama baik individu, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap profesi dan proses pencarian fakta itu sendiri. Jika foto seorang jurnalis diseret ke dalam narasi yang tidak tepat, maka bukan hanya individu yang dirugikan, melainkan juga ruang publik yang tercemar oleh informasi yang tidak akurat. Dalam jangka panjang, situasi seperti ini dapat memperkeruh upaya penelusuran fakta yang semestinya dilakukan secara tenang, objektif, dan bertanggung jawab.

Lia meminta masyarakat lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi yang beredar, terutama yang berkaitan dengan peristiwa yang masih membutuhkan pendalaman. Ia mengingatkan bahwa asas praduga tak bersalah harus tetap dijunjung, dan proses klarifikasi perlu dihormati agar publik tidak terjebak dalam penghakiman sepihak.

“Mari bersama-sama bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai foto seseorang digunakan untuk menggiring opini yang belum tentu sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Kebenaran harus didasarkan pada data dan fakta, bukan asumsi maupun prasangka,” tutup Lia Hambali.

Di tengah cepatnya penyebaran informasi, klarifikasi ini menjadi pengingat bahwa satu foto tidak selalu menjelaskan keseluruhan peristiwa. Di balik gambar yang beredar, selalu ada konteks yang harus dipahami, fakta yang harus diperiksa, dan kehati-hatian yang wajib dijaga. Ketika ruang digital dipenuhi opini yang berkejaran lebih cepat daripada verifikasi, publik justru dituntut semakin cermat agar tidak ikut memperpanjang kabar yang keliru. Pada akhirnya, menjaga akurasi informasi bukan hanya tanggung jawab jurnalis, melainkan juga tanggung jawab bersama sebagai pengguna ruang publik.(RED)

Berita Terkait

Sambut Hari Jadi Humas Polri ke-75, Si Humas Polres Karo Gelar Bakti Sosial di Masjid Husnul Khotimah
Cegah Penyalahgunaan Narkoba, Polsek Berastagi Ajak Generasi Muda Pahami Hukum Sejak Dini
Polsek Berastagi Amankan Kegiatan Kerja Rani GBKP Runggun Berastagi Kota Tahun 2026
Bulog Ukir Rekor Pengadaan Beras Tertinggi,KC Karo Bidik Target Serap Gabah 100%
Sinergitas TNI-Polri, Polsek Simpang Empat Berikan Imbauan Keselamatan kepada Masyarakat Pasca Erupsi Gunung Sinabung
Perkuat Sinergitas,Polres Karo Bersama Forkopimda Sambangi Markas TNI di HUT Ke-81
Kapolres Karo Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila
Polres Karo Ungkap Kasus Curas Sebabkan Korban Meninggal Dunia, Dua Tersangka Diamankan

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Perkuat Silaturahmi dan Jaga Kamtibmas, Kapolres Aceh Tenggara Diwakili Wakapolres Sambangi Masyarakat Desa Pulonas

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:06 WIB

Kapolres Aceh Tenggara diwakili oleh Wakapolres Bersama Forkopimda Hadiri Pelantikan Pengurus Cabang PGRI Periode 2024–2029

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:02 WIB

BUPATI ACEH TENGGARA LANTIK 16 KETUA CABANG PGRI PERIODE 2024–2029, DORONG PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:51 WIB

Sambut Hari Jadi ke-75 Humas Polri, Polres Aceh Tenggara Gelar Donor Darah

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Pemulihan Pascabencana di Aceh Tenggara, PRR Pusat Pinjamkan 18 Unit Alat Berat dan Delapan Dump Truck

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Dispora Aceh Salurkan Bantuan Olahraga ke SMA/SMK di Aceh Tenggara*

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Sambut Hari Humas Polri ke-75, Polres Aceh Tenggara Gelar Bakti Sosial Bersihkan Masjid

Minggu, 18 Oktober 2026 - 20:13 WIB

GERAK CEPAT SATRESNARKOBA POLRES ACEH TENGGARA, SEORANG PRIA DIAMANKAN BERSAMA BARANG BUKTI NARKOTIKA JENIS GANJA

Berita Terbaru