Dituding Usir dan Hina Jurnalis, Kepala DLH Bekasi Buka Suara
BEKASI — ANALISANEWS.ID
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi, Syapri Doni Sirait, membantah tudingan yang beredar di media sosial terkait dugaan pengusiran dan penghinaan terhadap seorang wartawan berinisial M atau Simare.
Doni menegaskan, informasi yang beredar dinilainya tidak menggambarkan secara utuh kronologi peristiwa ketika sejumlah orang datang ke ruang kerjanya untuk melakukan konfirmasi terkait pekerjaan.
Menurut Doni, dirinya tetap menerima kedatangan dua orang wartawan dan memberikan kesempatan untuk melakukan wawancara.
“Diawali sekretaris pribadi saya menyampaikan ada yang mau konfirmasi. Sperkenankan untuk hadir mereka dua. Dua orang tidak kenal, satu orang kenal, termasuk Mare,” kata Doni saat memberikan klarifikasi, Rabu (7/10/2026).
Akui Ada Persoalan Personal
Doni menjelaskan, persoalan muncul ketika proses wawancara berlangsung. Ia mengakui memiliki alasan personal sehingga tidak bersedia diwawancarai secara langsung oleh M.
Namun, ia menegaskan sikap tersebut bukan bentuk penolakan terhadap profesi wartawan.
“Kalau saya tidak menerima wartawan, saya pikir salah. Namun ternyata mereka sengaja mem-framing saya dengan berita tidak benar. Padahal sebelumnya saya telah menerima dua orang wartawan tersebut untuk wawancara di ruangan kerja,” ujarnya.
Doni juga membantah anggapan bahwa dirinya menutup akses wartawan untuk melakukan konfirmasi.
Wawancara Disebut Sempat Terganggu
Dalam keterangannya, Doni menyebut proses wawancara sempat terganggu karena salah satu orang yang hadir beberapa kali memotong penjelasannya.
“Saya diwawancarai oleh dua wartawan. Saat wawancara berlangsung ada salah satu orang selalu memotong penjelasan saya,” katanya.
Menurut Doni, kondisi tersebut membuat penjelasan yang disampaikannya berpotensi tidak tersampaikan secara utuh. Karena itu, ia memilih melanjutkan komunikasi dengan wartawan lain.
Selain persoalan wawancara, Doni juga mempersoalkan komunikasi M dengan anggota keluarganya terkait urusan pekerjaan.
“Kalau urusan pekerjaan saya, menurut saya tidak etis menghubungi kakak saya. Kenapa? Karena tidak ada hubungannya pekerjaan saya dengan keluarga,” ujarnya.
Ia menyebut pertimbangan tersebut berkaitan dengan kondisi orang tuanya yang sudah lanjut usia.
“Saya berpikir menjaga kesehatan orang tua saya. Saya bertanya, mengaku wartawan, kenapa mengait-ngaitkan dengan keluarga,” katanya.
Doni menilai persoalan pekerjaan seharusnya disampaikan langsung kepada pejabat atau pihak yang memiliki kewenangan memberikan informasi, tanpa melibatkan anggota keluarga.
Bantah Menghina Profesi Wartawan
Doni secara tegas membantah tudingan bahwa dirinya menghina profesi wartawan.
Ia mengatakan persoalan yang terjadi bersifat personal dengan individu tertentu dan tidak dapat digeneralisasi sebagai sikapnya terhadap insan pers.
“Saya tidak menghina profesi wartawan. Secara personal saya memang tidak mau diwawancarai oleh saudara M. Itu bukan berarti saya menolak wartawan.
Buktinya, saya tetap menerima mereka dan wawancara tetap berlangsung sampai selesai,” tegasnya.
Doni juga meminta masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan video maupun narasi yang beredar di media sosial.
Menurutnya, kronologi peristiwa perlu dilihat secara utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Saya berharap semua masyarakat bersikap profesional, demikian juga wartawan. Mari bersikap profesional dan jangan ada tendensi,” ujar Doni.
Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik dengan tetap mengedepankan profesionalitas antara pejabat publik dan insan pers.
Doni menegaskan dirinya tetap terbuka terhadap proses konfirmasi wartawan sepanjang dilakukan secara profesional dan sesuai dengan konteks pekerjaan.
(***)

































