MEDAN —
Suasana ujian kompetensi kerap dibayangi ketegangan, namun ujian kali ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers Kelas Madya yang berlangsung di Hotel Emerald Garden, Medan.
Di balik pengujian materi jurnalistik yang ketat, sosok penguji nasional Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) / Dewan Pers, Rizal Rudi Surya, hadir bukan sekadar sebagai penilai, melainkan sebagai mentor dan pengayom bagi para jurnalis.

Pria kelahiran Pematangsiantar, 27 Oktober 1970 ini menempuh pendidikan dasarnya di SD Negeri 091217 Marihat Baris, Simalungun, dilanjutkan ke SMP Negeri 8 dan SMA Negeri 3 Pematangsiantar, hingga akhirnya menuntaskan studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
Fondasi hukum yang kuat dipadu dengan dedikasi tinggi di dunia pers membawanya meniti karier sebagai Redaktur Kota di Harian Analisa.
Tak berhenti di situ, jam terbang jurnalistiknya makin teruji usai mengikuti Short Course di Indian Institute of Mass Communication (IIMC), New Delhi, India pada tahun 2003.
Pengalaman rekam jejak liputannya pun terbentang luas, melintasi berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, India, Jepang, dan Sri Lanka.
Di arena organisasi dan literasi, sosok yang pernah menjabat Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Cabang Sumut serta Sekretaris Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Sumut ini dikenal sangat produktif.
Dedikasinya pada dunia literasi dibuktikan lewat sederet karya buku seperti Pileg 2009: Tulisan Ringan Seorang Jurnalis (2009), Nikmatnya Menulis (2009), Syaiful Syafri: Pemikiran dan Kebijakannya Mengemban Perpustakaan (2010), hingga Hj Fatimah Habibie: Aksinya Mengentaskan Kemiskinan dan Mencerdaskan.
Seluruh rekam jejak dan pengalaman panjang tersebut dibagikan secara tulus di ruang ujian. Kehangatan serta keteladanan yang ditunjukkan Rizal Rudi Surya memantik rasa hormat dan apresiasi mendalam dari para peserta UKW Kelas Madya, di antaranya Aswani Hagit, Doni Syahputra, Mahra Lazuardi Harahap, Isron Jogi Sinaga, dan Ikhwan Nasution. Mereka menilai pendekatan yang dibawakan tidak hanya menguji kapasitas intelektual dan etika jurnalistik, tetapi juga membangkitkan kembali semangat integritas serta kebanggaan terhadap profesi wartawan.
”Beliau tidak hanya menguji pemahaman kami terkait Kode Etik Jurnalistik dan manajemen redaksi, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan kami sebagai jurnalis. Bimbingan dan masukan yang diberikan sangat menyejukkan sekaligus membakar semangat kami untuk terus berkarya secara profesional,” ungkap perwakilan peserta di sela-sela kegiatan.
Melalui proses pengujian yang humanis namun tetap memegang teguh standar kompetensi Dewan Pers, Rizal Rudi Surya membuktikan bahwa nilai tertinggi seorang penguji dan jurnalis senior terletak pada kerelaannya merangkul, mengayomi, serta membimbing generasi penerus pers Indonesia.(AVID)

































